Di sebuah perumahan tinggallah
sepasang sahabat yang saling menyayangi. Mereka berdua seperti tidak bisa
dipisahkan. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Mereka bernama Azizah Amira Rahmani dan Naila Muazara. Mereka sekolah di sekolah yang sama
yaitu di SMP AL – MUNAWWARIYAH. Mereka juga belajar di kelas yang sama.
Suatu hari,
mereka berangkat sekolah bersama. Karena hari ini adalah hari pertama mereka
masuk sekolah. Mereka berdua ke sekolah hanya dengan berjalan kaki, karena
sekolahnya tidak jauh dari rumah mereka. Di perjalanan, mereka pun berbincang
bincang. Setelah lama berbincang bincang, akhirnya mereka pun sampai di
sekolah. “Waaaah… bagus sekali sekolah ini, aku memang nggak salah sekolah di
sini..” kata Azizah terkagum-kagum, “iya, bener banget.” Kata Naila membalas
omongan Azizah. “Ya udah yuk kita ke kelas kita.” ajak Azizah, “yuk” seru Naila.
Sesampainya
mereka di kelas, mereka bertemu dengan teman-teman barunya, dan mereka pun
berkenalan. “Hay kalian berdua, sepertinya kalian bersahabat?” sapa seorang
murid kepada Azizah dan Naila. “Iya, kita memang bersahabat sejak kecil.” jawab
Azizah, “oh, pantesan kalian kok deket banget, oh ya kenalin aku Azula Zahra
Ratifa biasa dipanggil Azula, nama kalian siapa?” tanya seorang murid kepada
Azizah dan Naila, “aku Azizah Amira Rahmani biasa dipanggil Azizah, ini sahabat
aku namanya Naila Muazara biasa dipanggil Naila, Naila ini cukup pendiam loh”,
“hay, aku Naila.”, begitulah perkenalan antara Azizah, Naila, dan Azula.
Di saat
istirahat, mereka bertiga pun pergi menuju kantin untuk berbincang-bincang.
“eh, kayaknya persahabatan kalian tuh asyik banget deh, aku boleh gak jadi
sahabat kalian?” tanya Azula kepada Azizah dan Naila, “wah, kayaknya sih bagus
juga tuh kalo kita bertiga sahabatan, aku sih mau mau aja, tapi Nailanya,
gimana nih Nai? Kamu mau gak kalau Azula jadi sahabat kita?” tanya Azizah
kepada Naila, “kenapa harus nolak, ini kan hal yang bagus.” Jawab Naila, “jadi
sekarang kita sahabatan nih?” tanya Azula untuk meyakinkan, “iya dong.” jawab
Azizah.
Setelah
istirahat, mereka kembali ke kelas mereka dan melanjutkan pelajaran. Karena
hari ini bu Qonita tidak hadir, jadi murid-murid hanya diam di dalam kelas.
Tapi tidak hanya diam, ada yang bermain laptop, ada yang membaca buku dan
lain-lain. Tapi berbeda dengan sahabat yang satu ini, mereka berbincang-bincang
bersama. Entah apa yang mereka bertiga bicarakan.
Setelah jam
pelajaran habis, akhirnya mereka pun pulang, tapi rumah mereka berjauhan,
kecuali Azizah dan Naila. “Azula, kita pulang dulu ya… hati hati ya Azula…” kata
Azizah kepada Azula, “iya, kalian juga hati-hati ya” jawab Azula, “iya” jawab
Azizah dan Naila kompak.
Sesampainya
di rumah, Azizah dan Naila bermain bersama dan bercanda ria bersama. Tapi entah
apa yang mereka pikirkan. Tiba-tiba mereka membahas sikap Azula, “Zah, aku aneh
deh sama sikapnya Azula, masa tiba-tiba dia minta jadi sahabat kita? Kan kita
baru aja kenal.”tanya Naila heran, “masa sih Nai?, menurutku enggak deh, tapi
kalo aneh kenapa kamu setuju kalau Azula jadi sahabat kita?”, tanya Azizah
bingung, “ya, awalnya sih aku nggak kepikiran kayak gitu, tapi setelah
dipikir-pikir rasanya aneh aja gitu.” jelas Naila kepada Azizah, “ya mungkin
perasaanmu aja kali, aku mah nggak sampai mikir kayak gitu. Ya wajar aja lah
Nai. Udah lah jangan dipikirin terus, dibuat santai aja lagi.” kata Azizah,
“iya kali ya, akunya aja yang terlalu aneh.” Kata Naila.
Keesokan
harinya mereka pun pergi ke sekolah. Dan mereka bertiga bertemu di gerbang
sekolah. Di sana sudah ada Azula yang sedang menunggu Azizah dan Naila, “hay
Azula… udah lama nunggu ya… maaf ya..” sapa Azizah, “enngak kok Zah, aku baru
aja sampai.” Jawab Azula. “ya udah yuk kita masuk ke kelas.” Ajak Naila, “yuk”
jawab Azizah dan Azula.
Sesampainya
di kelas, mereka bertiga berbincang-bincang bersama. Dan mereka juga bercanda
ria bersama. Seperti itulah yang selalu mereka lakukan setiap bu Qonita tidak
hadir mengisi pelajaran di sekolah.
Di
rumah Naila, orang tua Naila mengajak Naila untuk ikut ke Singapura, tapi Naila
menolak untuk ikut orang tuanya ke Singapura, karena Naila tidak ingin berpisah
dengan sahabatnya. “Nai, liburan kenaikan kelas ini mama dan papa akan ke
Singapura, kamu ikut ya?” tanya mama Naila kepada Naila, “ngapain ma ke
Singapura?” tanya Naila, “ya kita akan pindah ke sana Naila.” Jelas mama Naila,
“Naila nggak mau ikut ma, Naila nggak mau ikut mama papa ke Singapura, Naila nggak
mau pisah sama sahabat-sahabat Naila.” Jelas Naila, “nggak bisa Naila, kamu
harus ikut mama sama papa ke Singapura, ya udah deh, mama kasih kamu waktu
untuk memikirkan hal ini.” Jelas mama Naila, “tapi ma …?” tanya Naila kepada
sang mama, tapi mamanya tak peduli, mama Naila langsung pergi meninggalkan
Naila.
Setelah
beberapa bulan mereka bersahabat, ternyata sikap Azula memang berbeda, ternyata
Azula bersahabat dengan Azizah dan Naila hanya berniat untuk menghasut Naila.
Disaat istirahat, mereka bertiga pergi menuju kantin dan duduk di kursi kantin.
Saat mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba Azizah ingin ke kamar mandi,
dan ini akan menjadi kesempatan bagi Azula untuk menghasut Naila. “Azula, Naila
aku mau ke kamar mandi dulu ya…” kata Azizah, “oh, ya udah” jawab Azula dan
Naila.
Dan ini
menjadi kesempatan Azula untuk menghasut Naila. “Nai, kamu ngerasa nggak sih,
kalo Azizah sahabatan sama kamu itu cuma kasihan sama kamu, dia itu nggak tulus
sahabatan sama kamu.” Hasut Azula kepada Naila, “masa sih La? Aku nggak percaya
ah. Emang kamu tau dari mana sih La?” Kata Naila, “lo, Azizahnya sendiri yang
ngomong ke aku.” Jelas Azula, “masa sih?” kata Naila, “ya, kalau kamu nggak
percaya sih nggak papa, aku cuma ngasih tau aja ya, sama kamu. Takutnya kamu
ntar makin dibuat-buat sama Azizah.” Jelas Azula, “ya udah deh, ntar aku
tanyain ke Azizah.” Kata Naila, “nah, gitu dong.” Seru Azula dengan senyuman
licik. Setelah Azula dan Naila berbincang-bincang, akhirnya Azizah pun datang
secara gaduh. “hay kalian…” sapa Azizah kepada Azula dan Naila, “hay Zah..”
jawab Naila dan Azula, “emm, Zah, nanti pulang sekolah aku mau ngomong sama
kamu.” Seru Naila, “mau ngomong apa Nai?” tanya Azizah bingung, “udah, ntar
kamu tau sendiri kok.” Jelas Naila.
Setelah
pulang sekolah, Naila dan Azizah pun bicara empat mata. “apa yang mau kamu
omongin Nai?” tanya Azizah, “apa bener kamu sahabatan sama aku itu cuma karena
kasihan sama aku?” tanya Naila, “kamu ini ngomong apa sih Nai?” tanya Azizah
bingung, “Azula yang nyampaikan ke aku.” Jelas Naila, “enggak kok Nai, aku itu
tulus sahabatan sama kamu.” Jelas Azizah, “udah lah Zah, yang Azula omongin itu
bener kan?” tanya Naila kepada Azizah, “nggak kok Nai, yang Azula omongin itu
nggak bener Nai…” jelas Azizah, “udah deh Zah kamu nggak usah bohong. Kalau
gitu kita nggak usah sahabatan lagi deh.”kata Naila dengan nada sedikit bentak,
“tapi Nai …” Naila pun pergi tanpa menghiraukan Azizah, sedangkan Azizah hanya
bisa sedih dan pasrah.
Di rumah
Naila, Naila langsung menemui mamanya. Entah apa yang akan Naila bicarakan pada
sang mama. “ma, Naila berubah pikiran, Naila akan ikut mama dan papa ke
Singapura.” Kata Naila, “yang benar Nai?” tanya mama untuk meyakinkan Naila,
“iya ma.. Naila akan ikut mama ke Singapura.” Jelas Naila, “Ya udah kamu
siap-siap karena lusa kita berangkat.”
Keesokan harinya di sekolah, tidak
sengaja Azizah dan Naila saling bertemu, tetapi Naila tidak menghiraukan
Azizah. “hay Nai?” sapa Azizah, tetapi Naila hanya diam dan pergi begitu saja
tanpa menghiraukan Azizah. Azizah hanya bisa diam dan pasrah. Lalu, Azizah
bergegas menuju ke kelas untuk menemui Azula. “aku harus bicara pada Azula,
keterlaluan dia, udah bikin persahabatan aku dan Naila hancur.” Gumam Azizah.
Sesampainya di kelas, Azizah langsung menemui Azula. “Azula, apa yang kamu
omongin ke Nattila?”tanya Azizah kepada Azula, “nggak kok Zah, aku nggak
ngomong apa-apa ke Naila.” Jelas Azula, “halah, udah deh kamu nggak usah
bohong, aku udh tau kok, Naila yang nyeritain ke aku, kamu udah menghasut
Naila, keterlaluan banget kamu La.” Jelas Azizah pada Azula, “iya Zah, aku yang
udah menghasut Naila, awalnya aku itu benci sama kalian, jadi aku mencoba buat
menghasut Naila, maafin aku ya Zah?” jelas Azula, “yang kamu lakuin itu
keterlaluan banget tau.. kamu udah bikin persahabatan aku sama Naila jadi
berakhir, pokoknya aku nggak akan maafin kamu, ngerti!.” Jelas Azizah dengan
membentak Azula. “tapi Zah?.” Tanpa basa-basi, Azizah langsung pergi
meninggalkan Azula.
Lalu, Azizah pergi ke rumah Naila
untuk meminta maaf pada Naila. Sesampainya di rumah Naila, Azizah langsung
mengetok-ngetok pintu rumah Naila, “assalamualaikum… Nai, ini aku Azizah, buka
pintunya Nai, aku mau minta maaf sama kamu, tolong Nai buka pintunya !” seru
Azizah, lalu Naila pun membukakan pintunya “mau apa lagi kamu kesini? Kan aku
udah bilang aku nggak mau jadi sahabat kamu lagi !” kata Naila pada Azizah,
“tapi Nai, aku bener-bener minta maaf, karena ini bukan salahku, Azula yang
udah menghasut kamu, Azula yang cerita sama aku.” Jelas Azizah, “terserah kamu
mau ngomong apa, pokoknya kita udah bukan sahabat lagi, ngerti ! lagian bentar
lagi aku udah nggak di sini kok, aku akan ke Singapura.” Jelas Naila, “apa Nai?
Kamu akan ke Singapura?, mau ngapain Nai?” tanya Azizah, “ya, aku mau pindah ke
sana, lagian percuma kalau aku di sini, nggak ada yang nemenin aku lagi,
mending aku ikut mama sama papa ke Singapura.” Jelas Naila lagi, “tapi Nai?..”
“udah deh, ngapain lagi kamu di sini, sudah sana, besok aku akan berangkat ke
Singapura, sudah sana kamu pergi, aku udah capek sama kamu.” Belum Azizah
menjawab, Naila langsung menutup pintu rumahnya.
Keesokan harinya di sekolah, Azizah
bergegas menemui Azula. “Azula, ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu Naila
jadi pergi, dia akan pindah ke Singapura.” Kata Azizah pada Azula, “masa sih
Zah?” tanya Azula yang tak percaya, “udah deh, sekarang kamu ikut aku ke rumah
Naila, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu, ayok” ajak Azizah.
Sesampainya di rumah Naila, mereka langsung mengetok pintu rumah Naila, “assalamualaikum,
Nai.. Naila, buka pintunya ini aku Azizah dan Azula, aku mau minta maaf sama
kamu Nai…” panggil Azizah, “iya Nai, aku juga mau minta maaf sama kamu, karena
aku yang udah menghasut kamu.” Jelas
Azula, tapi yang membukakan pintunya bukan Naila, tetapi pembantunya, “maaf,
cari Naila ya Zah?” tanya pembantu Naila pada Azizah, “iya mbak, Nailanya
mana?” tanya Naila, “maaf Zah, Naila sudah berangkat sejak Subuh tadi Zah.”
Jelas pembantu Naila pada Azizah dan Azula, “apa mbak, Naila sudah berangkat?.”
Tanya Azizah, “iya Zah. Ini mbak mau beres beres buat pulang ke kampung
halaman, maaf ya Zah, kamu telat.” Jelas pembantu Naila.
Akhirnya
Azula menyesali perbuatannya yang telah menyakiti sahabatnya. Azizah hanya bisa
menangis dan pasrah. Azula meminta maaf pada Azizah berkali-kali, tapi tidak
ada tanggapan, setelah berkali-kali meminta maaf akhirnya Azizah memaafkan
Azula. Dan akhirnya mereka berdua menjadi sahabat yang sejati, dan Naila pun
tenang di Singapura tanpa memikirkan Azizah dan Azula lagi.