Minggu, 04 Mei 2014

KEPERGIAN SEORANG SAHABAT

Di sebuah perumahan tinggallah sepasang sahabat yang saling menyayangi. Mereka berdua seperti tidak bisa dipisahkan. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Mereka bernama Azizah Amira Rahmani dan Naila Muazara. Mereka sekolah di sekolah yang sama yaitu di SMP AL – MUNAWWARIYAH. Mereka juga belajar di kelas yang sama.
            Suatu hari, mereka berangkat sekolah bersama. Karena hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah. Mereka berdua ke sekolah hanya dengan berjalan kaki, karena sekolahnya tidak jauh dari rumah mereka. Di perjalanan, mereka pun berbincang bincang. Setelah lama berbincang bincang, akhirnya mereka pun sampai di sekolah. “Waaaah… bagus sekali sekolah ini, aku memang nggak salah sekolah di sini..” kata Azizah terkagum-kagum, “iya, bener banget.” Kata Naila membalas omongan Azizah. “Ya udah yuk kita ke kelas kita.” ajak Azizah, “yuk” seru Naila.
            Sesampainya mereka di kelas, mereka bertemu dengan teman-teman barunya, dan mereka pun berkenalan. “Hay kalian berdua, sepertinya kalian bersahabat?” sapa seorang murid kepada Azizah dan Naila. “Iya, kita memang bersahabat sejak kecil.” jawab Azizah, “oh, pantesan kalian kok deket banget, oh ya kenalin aku Azula Zahra Ratifa biasa dipanggil Azula, nama kalian siapa?” tanya seorang murid kepada Azizah dan Naila, “aku Azizah Amira Rahmani biasa dipanggil Azizah, ini sahabat aku namanya Naila Muazara biasa dipanggil Naila, Naila ini cukup pendiam loh”, “hay, aku Naila.”, begitulah perkenalan antara Azizah, Naila, dan Azula.
            Di saat istirahat, mereka bertiga pun pergi menuju kantin untuk berbincang-bincang. “eh, kayaknya persahabatan kalian tuh asyik banget deh, aku boleh gak jadi sahabat kalian?” tanya Azula kepada Azizah dan Naila, “wah, kayaknya sih bagus juga tuh kalo kita bertiga sahabatan, aku sih mau mau aja, tapi Nailanya, gimana nih Nai? Kamu mau gak kalau Azula jadi sahabat kita?” tanya Azizah kepada Naila, “kenapa harus nolak, ini kan hal yang bagus.” Jawab Naila, “jadi sekarang kita sahabatan nih?” tanya Azula untuk meyakinkan, “iya dong.” jawab Azizah.
            Setelah istirahat, mereka kembali ke kelas mereka dan melanjutkan pelajaran. Karena hari ini bu Qonita tidak hadir, jadi murid-murid hanya diam di dalam kelas. Tapi tidak hanya diam, ada yang bermain laptop, ada yang membaca buku dan lain-lain. Tapi berbeda dengan sahabat yang satu ini, mereka berbincang-bincang bersama. Entah apa yang mereka bertiga bicarakan.
            Setelah jam pelajaran habis, akhirnya mereka pun pulang, tapi rumah mereka berjauhan, kecuali Azizah dan Naila. “Azula, kita pulang dulu ya… hati hati ya Azula…” kata Azizah kepada Azula, “iya, kalian juga hati-hati ya” jawab Azula, “iya” jawab Azizah dan Naila kompak.
            Sesampainya di rumah, Azizah dan Naila bermain bersama dan bercanda ria bersama. Tapi entah apa yang mereka pikirkan. Tiba-tiba mereka membahas sikap Azula, “Zah, aku aneh deh sama sikapnya Azula, masa tiba-tiba dia minta jadi sahabat kita? Kan kita baru aja kenal.”tanya Naila heran, “masa sih Nai?, menurutku enggak deh, tapi kalo aneh kenapa kamu setuju kalau Azula jadi sahabat kita?”, tanya Azizah bingung, “ya, awalnya sih aku nggak kepikiran kayak gitu, tapi setelah dipikir-pikir rasanya aneh aja gitu.” jelas Naila kepada Azizah, “ya mungkin perasaanmu aja kali, aku mah nggak sampai mikir kayak gitu. Ya wajar aja lah Nai. Udah lah jangan dipikirin terus, dibuat santai aja lagi.” kata Azizah, “iya kali ya, akunya aja yang terlalu aneh.” Kata Naila.
            Keesokan harinya mereka pun pergi ke sekolah. Dan mereka bertiga bertemu di gerbang sekolah. Di sana sudah ada Azula yang sedang menunggu Azizah dan Naila, “hay Azula… udah lama nunggu ya… maaf ya..” sapa Azizah, “enngak kok Zah, aku baru aja sampai.” Jawab Azula. “ya udah yuk kita masuk ke kelas.” Ajak Naila, “yuk” jawab Azizah dan Azula.
            Sesampainya di kelas, mereka bertiga berbincang-bincang bersama. Dan mereka juga bercanda ria bersama. Seperti itulah yang selalu mereka lakukan setiap bu Qonita tidak hadir mengisi pelajaran di sekolah.
                Di rumah Naila, orang tua Naila mengajak Naila untuk ikut ke Singapura, tapi Naila menolak untuk ikut orang tuanya ke Singapura, karena Naila tidak ingin berpisah dengan sahabatnya. “Nai, liburan kenaikan kelas ini mama dan papa akan ke Singapura, kamu ikut ya?” tanya mama Naila kepada Naila, “ngapain ma ke Singapura?” tanya Naila, “ya kita akan pindah ke sana Naila.” Jelas mama Naila, “Naila nggak mau ikut ma, Naila nggak mau ikut mama papa ke Singapura, Naila nggak mau pisah sama sahabat-sahabat Naila.” Jelas Naila, “nggak bisa Naila, kamu harus ikut mama sama papa ke Singapura, ya udah deh, mama kasih kamu waktu untuk memikirkan hal ini.” Jelas mama Naila, “tapi ma …?” tanya Naila kepada sang mama, tapi mamanya tak peduli, mama Naila langsung pergi meninggalkan Naila.
            Setelah beberapa bulan mereka bersahabat, ternyata sikap Azula memang berbeda, ternyata Azula bersahabat dengan Azizah dan Naila hanya berniat untuk menghasut Naila. Disaat istirahat, mereka bertiga pergi menuju kantin dan duduk di kursi kantin. Saat mereka sedang berbincang-bincang tiba-tiba Azizah ingin ke kamar mandi, dan ini akan menjadi kesempatan bagi Azula untuk menghasut Naila. “Azula, Naila aku mau ke kamar mandi dulu ya…” kata Azizah, “oh, ya udah” jawab Azula dan Naila.
            Dan ini menjadi kesempatan Azula untuk menghasut Naila. “Nai, kamu ngerasa nggak sih, kalo Azizah sahabatan sama kamu itu cuma kasihan sama kamu, dia itu nggak tulus sahabatan sama kamu.” Hasut Azula kepada Naila, “masa sih La? Aku nggak percaya ah. Emang kamu tau dari mana sih La?” Kata Naila, “lo, Azizahnya sendiri yang ngomong ke aku.” Jelas Azula, “masa sih?” kata Naila, “ya, kalau kamu nggak percaya sih nggak papa, aku cuma ngasih tau aja ya, sama kamu. Takutnya kamu ntar makin dibuat-buat sama Azizah.” Jelas Azula, “ya udah deh, ntar aku tanyain ke Azizah.” Kata Naila, “nah, gitu dong.” Seru Azula dengan senyuman licik. Setelah Azula dan Naila berbincang-bincang, akhirnya Azizah pun datang secara gaduh. “hay kalian…” sapa Azizah kepada Azula dan Naila, “hay Zah..” jawab Naila dan Azula, “emm, Zah, nanti pulang sekolah aku mau ngomong sama kamu.” Seru Naila, “mau ngomong apa Nai?” tanya Azizah bingung, “udah, ntar kamu tau sendiri kok.” Jelas Naila.
            Setelah pulang sekolah, Naila dan Azizah pun bicara empat mata. “apa yang mau kamu omongin Nai?” tanya Azizah, “apa bener kamu sahabatan sama aku itu cuma karena kasihan sama aku?” tanya Naila, “kamu ini ngomong apa sih Nai?” tanya Azizah bingung, “Azula yang nyampaikan ke aku.” Jelas Naila, “enggak kok Nai, aku itu tulus sahabatan sama kamu.” Jelas Azizah, “udah lah Zah, yang Azula omongin itu bener kan?” tanya Naila kepada Azizah, “nggak kok Nai, yang Azula omongin itu nggak bener Nai…” jelas Azizah, “udah deh Zah kamu nggak usah bohong. Kalau gitu kita nggak usah sahabatan lagi deh.”kata Naila dengan nada sedikit bentak, “tapi Nai …” Naila pun pergi tanpa menghiraukan Azizah, sedangkan Azizah hanya bisa sedih dan pasrah.
            Di rumah Naila, Naila langsung menemui mamanya. Entah apa yang akan Naila bicarakan pada sang mama. “ma, Naila berubah pikiran, Naila akan ikut mama dan papa ke Singapura.” Kata Naila, “yang benar Nai?” tanya mama untuk meyakinkan Naila, “iya ma.. Naila akan ikut mama ke Singapura.” Jelas Naila, “Ya udah kamu siap-siap karena lusa kita berangkat.”
Keesokan harinya di sekolah, tidak sengaja Azizah dan Naila saling bertemu, tetapi Naila tidak menghiraukan Azizah. “hay Nai?” sapa Azizah, tetapi Naila hanya diam dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Azizah. Azizah hanya bisa diam dan pasrah. Lalu, Azizah bergegas menuju ke kelas untuk menemui Azula. “aku harus bicara pada Azula, keterlaluan dia, udah bikin persahabatan aku dan Naila hancur.” Gumam Azizah. Sesampainya di kelas, Azizah langsung menemui Azula. “Azula, apa yang kamu omongin ke Nattila?”tanya Azizah kepada Azula, “nggak kok Zah, aku nggak ngomong apa-apa ke Naila.” Jelas Azula, “halah, udah deh kamu nggak usah bohong, aku udh tau kok, Naila yang nyeritain ke aku, kamu udah menghasut Naila, keterlaluan banget kamu La.” Jelas Azizah pada Azula, “iya Zah, aku yang udah menghasut Naila, awalnya aku itu benci sama kalian, jadi aku mencoba buat menghasut Naila, maafin aku ya Zah?” jelas Azula, “yang kamu lakuin itu keterlaluan banget tau.. kamu udah bikin persahabatan aku sama Naila jadi berakhir, pokoknya aku nggak akan maafin kamu, ngerti!.” Jelas Azizah dengan membentak Azula. “tapi Zah?.” Tanpa basa-basi, Azizah langsung pergi meninggalkan Azula.
Lalu, Azizah pergi ke rumah Naila untuk meminta maaf pada Naila. Sesampainya di rumah Naila, Azizah langsung mengetok-ngetok pintu rumah Naila, “assalamualaikum… Nai, ini aku Azizah, buka pintunya Nai, aku mau minta maaf sama kamu, tolong Nai buka pintunya !” seru Azizah, lalu Naila pun membukakan pintunya “mau apa lagi kamu kesini? Kan aku udah bilang aku nggak mau jadi sahabat kamu lagi !” kata Naila pada Azizah, “tapi Nai, aku bener-bener minta maaf, karena ini bukan salahku, Azula yang udah menghasut kamu, Azula yang cerita sama aku.” Jelas Azizah, “terserah kamu mau ngomong apa, pokoknya kita udah bukan sahabat lagi, ngerti ! lagian bentar lagi aku udah nggak di sini kok, aku akan ke Singapura.” Jelas Naila, “apa Nai? Kamu akan ke Singapura?, mau ngapain Nai?” tanya Azizah, “ya, aku mau pindah ke sana, lagian percuma kalau aku di sini, nggak ada yang nemenin aku lagi, mending aku ikut mama sama papa ke Singapura.” Jelas Naila lagi, “tapi Nai?..” “udah deh, ngapain lagi kamu di sini, sudah sana, besok aku akan berangkat ke Singapura, sudah sana kamu pergi, aku udah capek sama kamu.” Belum Azizah menjawab, Naila langsung menutup pintu rumahnya.
Keesokan harinya di sekolah, Azizah bergegas menemui Azula. “Azula, ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu Naila jadi pergi, dia akan pindah ke Singapura.” Kata Azizah pada Azula, “masa sih Zah?” tanya Azula yang tak percaya, “udah deh, sekarang kamu ikut aku ke rumah Naila, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu, ayok” ajak Azizah. Sesampainya di rumah Naila, mereka langsung mengetok pintu rumah Naila, “assalamualaikum, Nai.. Naila, buka pintunya ini aku Azizah dan Azula, aku mau minta maaf sama kamu Nai…” panggil Azizah, “iya Nai, aku juga mau minta maaf sama kamu, karena aku  yang udah menghasut kamu.” Jelas Azula, tapi yang membukakan pintunya bukan Naila, tetapi pembantunya, “maaf, cari Naila ya Zah?” tanya pembantu Naila pada Azizah, “iya mbak, Nailanya mana?” tanya Naila, “maaf Zah, Naila sudah berangkat sejak Subuh tadi Zah.” Jelas pembantu Naila pada Azizah dan Azula, “apa mbak, Naila sudah berangkat?.” Tanya Azizah, “iya Zah. Ini mbak mau beres beres buat pulang ke kampung halaman, maaf ya Zah, kamu telat.” Jelas pembantu Naila.
            Akhirnya Azula menyesali perbuatannya yang telah menyakiti sahabatnya. Azizah hanya bisa menangis dan pasrah. Azula meminta maaf pada Azizah berkali-kali, tapi tidak ada tanggapan, setelah berkali-kali meminta maaf akhirnya Azizah memaafkan Azula. Dan akhirnya mereka berdua menjadi sahabat yang sejati, dan Naila pun tenang di Singapura tanpa memikirkan Azizah dan Azula lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar